APA YANG DIMAKSUD DENGAN SABAR YANG SESUNGGUHNYA?

Sabar secara bahasa artinya menahan diri. Yang dimaksud syari’at adalah menahan diri dan melawan hawa nafsu: 

1. Dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. 

2. Dalam menjauhkan perbuatan yang diharamkan oleh Allah. 

3. Dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang pahit. 

Menghadapi takdir yang pahit wajib sabar. Karena manusia hidup ini untuk diuji pada dirinya, istrinya, orang tuanya, anaknya, hartanya, dan juga wabah seperti sekarang ini, dengan penyakit-penyakit yang berat, kekurangan harta, kefakiran, kelaparan, kezhaliman penguasa, dan lainnya. Wajib bagi seorang Muslim menahan dirinya, menahan lisannya tidak berkeluh kesah, tidak melaknat musibah, tidak melaknat dan mencaci maki wabah Corona. Menahan hatinya untuk yakin, berharap, takut, dan tawakkal hanya kepada Allah, tidak suuzzhan (berburuk sangka) kepada Allah. Menahan anggota tubuhnya tidak memukul-mukul wajah, pipinya, tidak merobek-robek baju, tidak melempar sesuatu karena marah dengan takdir Allah yang pahit. Seorang Muslim wajib menahan diri dari semua itu. 

Musibah, Cobaan, dan Ujian Ada 4 (Empat) Keadaan: 

Pertama: Marah, murka, tidak senang, dan lainnya. 

Berkeluh kesah, marah dengan adanya wabah. Dia marah dengan adanya penyakit, marah dengan adanya bencana, musibah, wabah Covid-19, dia jadi tidak kerja, tidak dagang, tidak bisa keluar rumah, jadi sedikit penghasilannya, tidak laku dagangannya, tidak bisa sekolah, kuliah, tidak bisa aktifitas, dan lainnya. Dia marah dan menyalahkan semuanya. Dia marah dengan hatinya, dia marah dengan lisannya. Berkeluh kesah, mencaci maki, dan dia marah dengan adanya wabah ini, atau dia marah dengan anggota tubuhnya dengan memukul muka, pipi, merobek baju, dan lainnya. Orang yang murka ketika ada cobaan, ujian, musibah, wabah dan bencana, maka Allah pun murka kepadanya. Orang yang murka terhadap musibah, cobaan dan ujian, maka dia mendapatkan dua musibah, yang pertama musibah dalam agama, yaitu dia murka kepada takdir Allah, dan yang kedua dia tidak dapat pahala. Dia berdosa dengan sebab murka kepada takdir Allah dan juga musibah, penyakit, dan wabah itu tidak hilang dari dirinya, bahkan dia tambah sakit. 

Kedua: Sabar atas musibah, cobaan, ujian, dan penyakit. 

Yaitu dia menahan dirinya, dia tidak suka dengan musibah, dia tidak mencintainya, akan tetapi dia berusaha untuk menahan dirinya dari berkeluh kesah, marah, mencaci maki atau berbicara yang tidak baik. Dia menahan dirinya dan anggota tubuhnya dari berbuat apa-apa yang dimurkai oleh Allah. Dia sabar tapi hatinya tidak menyukai kejadian atau musibah tersebut.

Ketiga: Ridho. 

Seseorang ketika mendapatkan musibah, wabah, penyakit, kesulitan, kefakiran, kekurangan harta, dia ridho dengan musibah yang menimpanya tersebut. Bahwa ini Allah sudah takdirkan dan takdir Allah semuanya adalah baik buat dia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ 

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah ; dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [QS. At-Taghaabun/64: 11] 

‘Alqamah menafsirkan iman yang tersebut dalam ayat ini dengan mengatakan :

هُوَ الرَّجُلُ تُصِيْبُهُ الْمُصِيْبَةُ فَيَعْلَمُ أَنَّهَا مِنْ عِنْدِ اللهِ فَيَرْضَى وَيُسَلِّمُ. 

“Yaitu seseorang yang ketika ditimpa musibah ia meyakini bahwa itu semua dari Allah, maka ia pun ridha dan pasrah (atas takdir-Nya).”[Ibnu Jarir dalam tafsirnya] 

Dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ ، وَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا ، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ. 

“Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan; dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, Allah menguji mereka (dengan cobaan). Barang siapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barang siapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.[HR. Tirmidzi] 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa besarnya ganjaran dan banyaknya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan dan ujian yang terjadi pada diri seorang hamba di dunia ini apabila dia bersabar dan mengharap pahala dengannya. Dan bahwasanya di antara tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya adalah Dia akan memberikan cobaan kepadanya. Maka apabila hamba itu ridha dengan keputusan dan ketentuan dari Allah, mengharap pahala dan ganjaran serta berbaik sangka kepada Allah, maka Allah akan ridha dan memberikan pahala kepadanya. Akan tetapi jika ia marah dengan keputusan Allah dan berkeluh kesah dengan musibah yang menimpanya, maka Allah pun akan marah kepadanya dan akan menghukumnya.

Keempat : Bersyukur kepada Allah atas musibah tersebut. 

Seorang Muslim harus yakin bahwa apa yang Allah takdirkan untuknya itu yang terbaik, dia bersyukur karena dengan adanya musibah, cobaan, dan ujian tersebut akan menghapuskan dosa-dosanya, akan mengangkat derajatnya, bahkan dengan keridhoan dia kepada Allah terhadap cobaan, ujian dan musibah tersebut, maka Allah pun Ridho kepadanya. Karena cobaan dan ujian itu merupakan nikmat, maka orang-orang shalih justru gembira sekiranya mereka mendapatkan cobaan itu, tidak bedanya jika mereka mendapat kesenangan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa cobaan para Nabi dan orang-orang shalih adalah penyakit, kemiskinan, dan lainnya. Setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

…وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِالْبَلَاءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُهُمْ بِالرَّخَاءِ. 

“…Dan sesungguhnya seorang dari mereka sungguh bergembira dengan bala’ (cobaan, ujian, musibah) yang menimpanya, sebagaimana seorang dari kalian bergembira di waktu lapang (kaya). [HR. Ibnu Majah]

Bahkan yang lebih besar lagi dengan dia bersyukur dan memuji Allah atas musibah tersebut, maka Allah akan bangunkan rumah di Surga dengan nama Baitul Hamdi. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللهُ تَعَالَى لِمَلَا ئِكَتِهِ: قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِيْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: نَعَمْ، فَيَقُوْلُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ، فَيَقُوْلُوْنَ: نَعَمْ، فَيَقُوْلُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِيْ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ، فَيَقُوْلُ اللهُ: اُبْنُوْا لِعَبْدِيْ بَيْتًا فِيْ الْجَنَّةِ وَسَمُّوْهُ بَيْتَ الْحَمْدِ. 

“Jika anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah Ta’ala akan berkata kepada para Malaikat-Nya: ‘Apakah kalian telah mencabut nyawa anak hamba-Ku?’ para Malaikat menjawab: ‘Ya, benar.’ Setelah itu, Dia bertanya lagi: ‘Apakah kalian telah mengambil buah hatinya?’ Mereka pun menjawab: ‘Ya.’ Kemudian, Dia berkata: ‘Apa yang dikatakan oleh hamba-Ku itu?’ Mereka menjawab: ‘Dia memanjatkan pujian kepada-Mu dan mengucapkan kalimat istirja’ (Inna lillaahi wa Innaa ilaihi Raaji’uun).’ Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Bangunkanlah untuk hamba-Ku sebuah rumah di dalam Surga dan namailah dengan Baitul Hamd (rumah pujian).’”[HR. Tirmidzi]

Do’a-Do’a yang Ma’tsur dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :


1. Do’a pada waktu melihat orang yang mengalami cobaan :

اَلْـحَمْدُ الَّذِيْ عَافَانِيْ مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ وَ فَضَّلَنِيْ عَلَى كَثِيْرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيْلًا. 

“Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku dari musibah yang Dia timpakan atasmu. Dan Allah telah memberi kemuliaan kepadaku melebihi orang banyak.”[HR. Tirmidzi] 


2. Do’a saat menghadapi kesulitan :

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ. 

“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Engkau semata, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk dari orang-orang yang zhalim.”[HR. Tirmidzi]

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُوْ، فَلَا تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. 

“Ya Allah, rahmat-Mu yang senantiasa aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku meski sekejap mata, dan perbaikilah urusanku semuanya, tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.”[HR. Abu Daud] 


3. Do’a ketika mengalami kesusahan, kesedihan, dan penawar hati yang dirundung duka :

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ. 

“Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun, Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Rabb pemilik ‘Arsy yang agung. Tiada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, Rabb langit dan Rabb bumi, serta Rabb pemilik ‘Arsy Yang Mulia.”[HR. Bukhari Muslim] 


4. Do’a berlindung dari kesengsaraan, kesusahan, dan hilangnya nikmat :

اَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَـحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. 

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya nikmat-Mu, dari berubahnya ‘afiat (kesejahteraan dari-Mu, dari hukuman-Mu yang datang dengan tiba-tiba, dan dari seluruh kemarahan-Mu.”[HR. Muslim]

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ الْفَقْرِ ، وَالْقِلَّةِ ، وَالذِّلَّةِ ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ. 

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan,kehinaan, serta aku berlindung kepada-Mu dari menzhalimi atau dizhalimi.”[HR. Abu Daud] 


5. Do’a diselamatkan dari kehinaan dan bencana :

اَللَّهُمَّ إنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ اْلبَلَاءِ، وَدَرْكِ الشَّقَاءِ، وَسُوْءِ اْلقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ. 

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari susahnya bala’ (bencana), tertimpa kesengsaraan, keburukan qadha’ (takdir), dan kegembiraan para musuh.”[HR. Bukhari Muslim]

Senantiasa Terus-Menerus Berdzikir Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala 

Ingat, selalu berdzikir kepada Allah dalam semua keadaan, karena dengan berdzikir akan membuat hati tenang dan tenteram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُﱠ 

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” [QS. Ar-Ra’du/13: 28] 

Baca dzikir sesudah shalat lima waktu, baca dzikir pagi dan sore, perbanyak istighfar, minta ampun kepada Allah atas semua dosa dan selalu minta tolong kepada Allah dengan sabar dan shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” [QS. Al-Baqarah/2: 153] 

Minta tolong kepada Allah dengan Shalat, maka kita wajib mengerjakan shalat yang lima waktu. Kemudian kerjakan shalat-shalat sunnat, shalat sunat rawatib, shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, dan kerjakan shalat lima waktu di masjid. Mudah-mudahan dengan cobaan, ujian, musibah, wabah dan bencana yang kita alami ini kita lulus ujian, kita terima dengan sabar dan ridho, dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat wabah, bencana, penyakit, dan kesulitan yang sedang kita alami sekarang ini. 

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menghapus dosa-dosa kita, mengembalikan kita kepada Allah untuk selalu bertaubat atas semua dosa, menyadarkan kita untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhkan segala larangan-larangan-Nya, mengangkat derajat kita, dan mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memasukkan kita ke dalam Surga-Nya. Aamin ya Rabbal ‘Alamiin.

Semoga shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para Shahabatnya, dan orang-orang yang mengamalkan dan membela Sunnah beliau sampai akhir zaman.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ




Posting Komentar

© IMAGINATOR ID. All rights reserved. Developed by Jago Desain