TUHAN DAN IMAJINASI (Kreativitas Tanpa Batas)


Selamat datang di IMAGINATOR ID adalah blog yang membahas tentang berbagai hal mengenai tutorial, informasi, kumpulan soal-soal ujian, dan beberapa karya ilmiah untuk kali ini saya akan membahas salah satunya.

Apa itu imajinasi? Menurut Merriam-Webster Dictionary imajinasi adalah sebuah kemampuan manusia untuk membuat gambaran mental tentang sesuatu yang tidak hadir pada indra lahir; atau sesuatu yang belum pernah sama sekali diketahui dalam realitas.

Apakah imajinasi itu sesuatu yang buruk? Tentu saja tidak. Atau, apakah imajinasi hanya menyajikan kebohongan dan kepalsuan? Di sini beda-beda pendapat orang.

Yuval Noah Harari dalam Sapiens mengatakan bahwa Tuhan dan agama hanyalah sebuah “imagined reality“. Sebuah realitas yang muncul melalui proses imajinasi. Pada nyatanya ia ada, makanya disebut realitas.

Tapi, ia adalah realitas yang dibuat oleh imajinasi. Ini seperti halnya smartphone. Smartphone adalah sebuah realitas, tapi ia merupakan realitas yang dibuat oleh pabrik smartphone.

Mengatakan bahwa Tuhan adalah “imagined reality“, itu artinya Tuhan dianggap sebuah realitas, tapi yang diproduksi oleh pabrik imajinasi.

Bukan hanya Tuhan dan agama, negara dan bangsa juga disebut “imagined reality“. Apa artinya ini semua? Ini berarti “imagined reality” hanyalah buatan khayalan manusia. Di sini imajinasi disamakan dengan fiksi. Tuhan adalah fiksi, seperti diyakini Richard Dawkins dalam The God Delusion.

Tidak ada yang salah jika kita menganggap smartphone adalah produk suatu pabrik. Bahkan smartphone adalah sebuah teknologi komunikasi yang muncul dari imajinasi seseorang di suatu zaman. Negara dan bangsa juga muncul dari imajinasi kolektif manusia. Tapi, bagaimana dengan Tuhan?

Benarkah Tuhan diciptakan oleh imajinasi? Memangnya apa sih imajinasi itu? Nah, kita kembali ke pertanyaan awal.

Imajinasi adalah kemampuan mental manusia untuk menggambarkan sesuatu yang tidak bisa diserap indra lahir, atau menggambarkan sesuatu yang belum pernah ada presedennya.

Darimanakah Imajinasi Berasal?

Imajinasi yang sering muncul dalam mimpi, melamun, de-javu ataupun “tiba-tiba” hadir dicoba untuk diselidiki psikolog-psikolog sebagai sesuatu yang terekam dibawah sadar, dan muncul.  Tapi darimana munculnya data-data random itu dibawah sadar kita (unconscious mind)?

Tidak ada yang tahu persisnya. Cuma secara logis, dapat dideduksi, ada dunia yang lain yang mempengaruhi dan menempatkan data-data imajiner itu. 

Itulah dunia imajinasi, yang dipercaya orang beragama adalah dunia spiritual atau dunia roh.

Dalam pemikiran Creatio Ex Nihilo, Tuhan adalah pencipta dari yang tidak ada menjadi ada.  Dengan kata lain, Tuhan berimajinasi akan semua yang kita hidupi sekarang. Dan imajinasi Tuhan itulah yang memberi benih-benih imajinasi kepada seluruh umat manusia sehingga terciptalah peradaban.  Divine Imagination.

Imajinasi Tuhan inilah sumber dari semua imajinasi, sebuah kreatiftas yang tidak ada batasannya.

Bisa kita bayangkan, apabila kita bisa memahami imajinasi-imajinasi Tuhan, maka berapa banyak perusahaan, produk, jasa, organisasi, seni, budaya, dan apapun itu bisa kita hadirkan.

Tuhan tidak pernah kekurangan ide. 

Karena Dialah sumber ide. 

Sebab itu ketika tidak ada jalan, Dia akan buat jalan yang baru. 

Ketika bejana itu retak, Dia akan buat yang baru. 

Seorang seer tua kaum Yahudi, Yeremia mengatakan “selalu baru tiap hari.”  The newness (kebaruan) Ilahi inilah sumber kekuatan utama yang menggerakan ekonomi dan peradaban manusia. 

Dengan mencangkokkan diri kepada sumber kebaruan itu, maka tiap hari kita akan melihat yang Tuhan lihat.  Membayangkan apa yang Tuhan bayangkan.  Tanpa batas.  Your imagination is my imagination. Imadeo (imajinasi Tuhan).

Albert Einsten terkenal dengan perkataannya, “Imagination is more powerful than knowledge!”  Industri kreatif yang berbasiskan ide, inovasi, kreatifitas, kebaruan, mengamini bahwa akar dari semuanya adalah IMAGINATION. 

Hollywood dan Bollywood adalah dua menara “industri kreatif” yang berhasil menjual imajinasi sebagai barang dagangan. 

Tokoh-tokoh Disney yang hanyalah binatang-binatang biasa seperti tikus, bebek, ikan, burung telah dijadikan barang-barang dagangan yang mahal, semua karena imajinasi.

Dalam dunia IT lebih gila lagi peran imajinasi.  Ketika Bill Gates membayangkan “every PC for everyhome” saat itu harga PC, kapasitasnya, dan distribusinya belum ada, tapi sudah dibayangkan.

Dan Bill Gates pun hanya mendapatkan “cipratan imajinasi” dari Steve Job, the real visioner. 

Sekarang bermunculan “para imajinator” yang melahirkan Facebook, Twitter, Amazon, dan yang baru trend keatas, pencipta mimpi “tinggal di planet Mars”, Elon Musk, Tesla group.

Dalam sejarah lahirnya national state (negara bangsa), sebuah negara seperti NKRI adalah sebuah imagined commmunity (masyarakat yang diimajinasikan), sebuah istilah yang diciptkan Benedict Anderson.

Intinya, sebuah masyarakat ideal yang dibayangkan bisa terjadi, dalam konteks NKRI, dari ribuan pulau, suku, dan bahasa, dibawah Pancasila dan UUD 1945 NKRI dapat menjadi tempat bagi masyarkatnya yang adil dan makmur.

Dalam cerita-cerita kuno, para imajinator ini disebut seer atau para pelihat, dan pemimpi. 

Yusuf dalam cerita agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam) dipercaya adalah orang yang bisa melihat dan bermimpi jauh kedepan, sehingga dari penjara dia bisa diangkat jadi Perdana Menteri negara paling berkuasa di bumi saat itu, Mesir.

Salomo, atau Sulaiman dipercaya sampai hari ini adalah orang yang paling kaya yang pernah hidup dimuka bumi. 

Bukan hanya orang yang penuh passsion (hasrat), dan wisdom (hikmat), Sulaiman bisa melihat meaning (makna) dari apa yang tersurat. 

Dia bisa membayangkan akhir dari semua, kesia-siaan. 

Pemikiran Salomo ini “dicopy” Steven Covey dalam buku best-seller “7 Habits of Highly Effective People”, dalam habit ke-2 disebutkan “Begin with the end in mind” Semuanya dari semua imajinasi.

Kata kunci di sini adalah definisi atau ta’rif imajinasi itu sendiri. Imajinasi tidak menciptakan apa pun.

Ia hanya merefleksikan realitas yang dipahami oleh akal manusia. Memang dalam refleksi akal, imajinasi dapat membuat kita memiliki gambaran konkrit tentang sesuatu yang abstrak. Tuhan misalnya. Berabad-abad peradaban manusia, kita melihat beragam gambaran tentang Tuhan.

Ya, imajinasi berusaha menggambarkan realitas Tuhan. Tapi bukan menciptakan wujud Tuhan. Bukan pula sebab bagi eksistensi Tuhan.

Memang pada satu aspek imajinasi seolah menciptakan sesuatu.

Seperti smartphone itu tadi.

Ada satu aspek dari smartphone yang seolah diciptakan imajinasi.

Yaitu gambaran mentalnya.

Dari sana kemudian sepeda mewujud dalam realitas.

Tapi bagaimana dengan Tuhan?

Tuhan diketahui oleh akal pikiran manusia. Ada juga yang menyebut bahwa hati (qalb) yang mengenal Tuhan.

Apa pun itu, Tuhan bukan hasil kreasi imajinasi kita. Atau imajinasi yang didorong oleh hasrat-hasrat psikologis seperti rasa takut dan kebutuhan rasa aman, seperti dalam pendapat Sigmund Freud.

Rasa kepercayaan pada Tuhan (sebagai sang maha segalanya) membuat kita lebih aman, tentram, dan hilang rasa takut. Dan, bukanlah rasa takut dan lain-lain itu yang membuat kita menciptakan sosok Tuhan dalam imajinasi kita.

Tuhan eksis meski manusia tidak pernah eksis.

Bagaimana kita bisa tahu?

Memangnya kita pernah melihat Tuhan?

Tidak, meski kita tidak pernah ada di dunia sekalipun, itu tidak ada pengaruhnya pada eksistensi Tuhan. Eksistensinya dibuktikan secara rasional. Bahwa, entah bagaimana, Dia hadir menciptakan alam semesta.

Begitu pula dengan agama, atau kita sebut saja wahyu. Tuhan itu hidup, dan Dia bersama kita, berbicara dengan kita, lewat wahyunya.

Bagaimana kita bisa berkata demikian?

Sebab Dia sendiri yang mengatakannya lewat wahyu tersebut. Lagi pula, jika tidak demikian bagaimana bisa dia disebut Tuhan.

Dan hubungan kita dengan Tuhan pun terjadi secara langsung lewat ibadah-ibadah yang Tuhan ajarkan dan  perintahkan. Di sinilah peran para Nabi, dan beberapa khalifah. Itulah mengapa kita mengikuti mereka. Karena merekalah yang mendengar langsung Tuhan berfirman (mendapatkan wahyu).

Semua ungkapan di atas mengenai Tuhan tampak sangat antropomorfis. Sebagian orang menjadikannya alasan bahwa imajinasi kita saja yang menciptakan sosok Tuhan. Tuhan dalam sosok kita sendiri. Reza Aslan menyebutnya “Humanized God”.

Menurut saya pribadi, bukan seperti itu.

Cara apa lagi yang Anda harap supaya kita bisa mendeskripsikan Tuhan, selain dengan cara yang manusia bisa.

Yakni lewat bahasa manusia yang sangat antropomorfis itu. Dan Tuhan pun melalui wahyunya menjelaskan kepada kita tentang Dirinya, lewat bahasa yang bisa kita pahami.

Tapi, itu semua adalah ungkapan tentang Tuhan, bukan Tuhan an sich.

Begitulah.

Tuhan adalah alasan mengapa semua ini ada, termasuk kita. Dia yang menciptakan ini semua, entah dalam cara yang bagaimana.

Yang pasti itu semua luar biasa. Bukan imajinasi yang menciptakan Tuhan. Karena, Tuhan yang diciptakan tentu bukan Tuhan. Sebuah “contradictio in terminis“.

NB: Saya menulis atau mempublikasikan artikel ini, hanya untuk sekedar sharing dan berbagi sedikit pengetahuan yang saya dapatkan dari berbagai sumber (tidak bermaksud untuk tujuan yang merugikan orang lain, dan apabila ada pihak yang merasa dirugikan bisa langsung hubungi kontak yang tersedia). 

Bagi pembaca mau menambahkan atau berkomentar dipersilahkan (semua orang mempunyai hak dan kebebasan berpendapat).

Source:
https://baca.nuralwala.id/tuhan-dan-imajinasi/
https://hannysetiawan.com/duniausaha/imajinasi-tuhan-kreatifitas-tanpa-batas/

Posting Komentar

© IMAGINATOR ID. All rights reserved. Developed by Jago Desain